Wednesday, September 23, 2015

surat ini aku tulis tulis pada hari sabtu tanggal 19 september 2015, aku tulis ulang dalam blog ku pada tanggal 23 september 2015 yang bertepatan pada malam 10 dzulhijjah malam takbir idul  'adha 




SURAT UNTUK RASULULLAH
Assalaamu’alaikum yaa Rasul....
Aku bingung mau dari mana aku harus memulai menulis surat untuk mu yaa Rasul. Akupun masih dilema. Aku merangkai kata tapi tak seindah ummat mu yang lain merangkaikan kata-kata indah untuk mu.
Aku hanya ingin menulis surat untuk mu, yang berharap surat ini sampai kepada mu dan berharap pula engkau dapat membalas surat ku ini.
Aku hanya ingin menyampaikan dalam isi surat ku ini betapa aku rindu pada mu yaa Rasul. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada dalam dada ini. Ketika aku rindu pada mu aku meneteskan air mata dengan sedunya dan berharap dapat menatap wajah indah mu.
Tapi sebenarnya aku malu untuk menulis surat ini yaa Rasul. Aku takut engkau tidak mau membaca surat ku dan engkau acuh pada ku.
Karena sebenarnya aku sedang berusaha tahu diri. Siapa aku. Yang berani-beraninya ingin bertemu pada manusia paling mulia di muka bumi ini. Sedangkan aku adalah manusia yang paling hina di muka bumi ini.
Yaa Rasul andai engkau dapat mendengar langsung jeritan hati ini, aku akan menjerit sekuat-kuatnya dan berkata “anaa ukhibbuka yaa habibi” dan aku ingin mengutarakan betapa lelahnya hidup ini.
Tanpa adanya engkau butalah aku yaa Rasul.
Karena engkau adalah sebaik-baiknya contoh yang patut dan wajib aku teladani.
Dengan rumitnya kehidupan dan aku tak tahu bagaimana cara menyelesaikan kerumitan ini aku membutuhkan mu yaa Rasul. Sangat butuh. Aku hampir menyerah dalam menjalani hidup yang rumit ini yaa Rasul. Mungkin, jika engkau masih berada di sekitar kami. Kami tidak akan merasa kerumitan yang sangat amat yang mana saat ini aku sedang jalani.
Yaa Rasul, mohon syafa’at mu. Takdir Allah menyatakan bahwa diri ini belum sempat bertemu dengan mu di dunia maka izinkanlah aku bertemu dengan mu di akhirat kelak.
Izinkan aku memeluk mu, mencium tangan mu, menyentuh kaki mu, dan bersimpuh dipangkuan mu. Mengadukan setiap episode kehidupan ku ketika aku masih menjalani kehidupan di dunia.
Sebagai kalimat penutup untuk surat pertama ku yang aku buat untuk mu, aku akan mengatakan “nantikan aku yaa Rasul”
Wassalaamu’alaikum yaa habiballah
Surakarta, 19 september 2015

TTD
Salam cinta


Euis ummat mu

Wednesday, September 2, 2015

assalaamua'alaikum wahai calon suami ku

wahai calon suami ku jagalah hati mu, peruntukkanlah hati ikhlas mu hanya untuk Allah dan Rasul Nya.

wahai calon suami ku, aku disini selalu menjaga hati ku supaya Allah tetap ridha pada hidup ku.

wahai calon suami ku, engkau adalah lelaki yang aku tunggu pada saat ini dan aku pun tak tau kapan waktu pertemuan kita di tentukan oleh Allah.

wahai calon suami ku jadilah hamba yang selalu setia pada Allah dan Rasul Nya. 

aku disini menunggu mu wahai engkau calon suami ku.....